Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Tuesday, December 12, 2017

JIHAD PALESTINA, ANTARA “SALAFI” DAN CONGOR SETAN


Ketika penduduk Palestina lemah, justru semakin kalian lemahkan dengan “fatwa hijrah”. kalian cerca penduduk Palestina yang hanya bersenjatakan lemparan batu. Kalian comot dalil larangan melempar batu karena tidak membuat takut. Lantas, apa yang akan mereka lempar sedangkan di sekitar mereka yang ada hanyalah batu ?! Ketika batu berganti senjata tatkala saudara kami Doktor Muhammad Mursi terpilih menjadi presiden, maka dibukanya perbatasan Mesir, dipasoknya senjata bagi penduduk Palestina. Mereka pun angkat senjata,  namun congor kalian justru mengatakan “jihad Palestina tidak syar’i”.

Kalian memang bengis! Kalian bergabung dengan As-Sisi menggulingkan Doktor Muhammad Mursi, membuat penduduk Palestina kembali ke zaman batu. Kalianlah sebenarnya ‘wasilah’ PENJAJAHAN dan PEMBANTAIAN terhadap penduduk Palestina itu. Dengan entengnya kalian mengatakan Allah yang akan menjaga Masjidil Aqsha, berdalil dengan kasus Abrahah. Kalian tolol atau dungu atau bahkan kedua-duanya? Allah menjaga Ka'bah dengan thoyron abaabil (burung ababil). sedang Allah akan menjaga Masjidil Aqsha dengan penduduknya!

Kata Rasulullah:

أول هذا الأمر نبوة ورحمة ثم يكون خلافة ورحمة ثم ملكا ورحمة ثم إمارة ورحمة ثم يتكادمون عليها تكادم الحمير فعليكم بالجهاد وإن أفضل جهادكم الرباط وإن أفضل رباطكم عسقلان . رواه الطبراني  بسند صحيح.
“Permulaan dari perkara Islam ini adalah kenabian dan rahmat. Kemudian tegaknya khilafah dan

 rahmat. Kemudian berdiri kerajaan dan rahmat. Kemudian berlaku pemerintahan (kerajaan kcil-kecil) dan rahmat. Kemudian orang-orang memperebutkan kekuasaan seperti kuda-kuda yang berebut makanan. Maka (pada saat seperti itu), maka wajib bagi kalian BERJIHAD. Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah ribath, dan sebaik-baik ribath kalian adalah di Asqalan (wilayah Palestina yang kini dalam cengkeraman penjajah Zionis Israel).”
(HR. Thabrani )

Pertanyaannya:
1.  Sudah adakah orang-orang memperebutkan kekuasaan seperti kuda-kuda yang berebut makanan sebagaimana yang Rasulullah sabdakan? Sudah. Hanya orang buta mata buta hati yang tidak mampu melihatnya.

2. Bagaimana mungkin ada ribath jika penduduknya hijrah semua? Mikir !!!

Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Saya mendengar Rasulullah bersabda:
لا يزال من أمتي قوم ظاهرين على الناس حتى يأتيهم أمرالله
“Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah, orang-orang yang memusuhi mereka maupun tidak mau mendukung mereka sama sekali tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” Lalu Malik bin Yakhamir menyahut, “Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa mereka berada di Syam.” Kemudian Mu’awiyah berkata, “Lihatlah, ini Malik menyebutkan bahwa ia telah mendengar Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa kelompok tersebut berada di Syam.”
[HR. Bukhari: Kitabul Manaqib no. 3369 dan Muslim: dalam Kitabul Imarah no. 3548]

Kata Rasulullah:
“Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berada di atas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, dan orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka kecuali sedikit musibah semata. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” , “Wahai Rasulullah, di manakah kelompok tersebut?” tanya para sahabat. Rasulullah menjawab, “Mereka berada di Baitul Maqdis dan serambi Baitul Maqdis (palestina).”

JIKA dikatakan dalam hadits itu “senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah”, maka dapat dipahami bahwa apapun kondisi yang menimpa Palestina, penduduknya akan tetap di sana untuk menegakkan agama Allah. Kalian malah dengan konyolnya mengatakan yang akan menolong Masjidil Aqsha adalah Allah, tapi kalian “tidak percaya” jika Allah akan menolong penduduk Palestina.

Bukankah Rasulullah bersabda, “ORANG-ORANG YANG MEMUSUHI MEREKA TIDAK AKAN MAMPU MENIMPAKAN BAHAYA TERHADAP MEREKA KECUALI SEDIKIT MUSIBAH SEMATA”. ??!

Kalian.. Ya kalian (“Salafy”) adalah congor setan !!!
Hijrah ! Hijrah ! Ente itu yang harus hijrah menjadi kaki tangan intelijen.!
✒_____
Ustad Fahmi Zakaria
Sumber:
https://www.facebook.com/maaheratthuwailibi.official/posts/1547453615300316

Sunday, December 10, 2017

Pokoknya Islam Harus Salah

Tulisan Emha Ainun Nadjieb atau yang lebih dikenal dengan nama Cak Nun berikut ini, dari dulu sampai hari ini, cocok untuk kondisi Islam di dunia, utamanaya di Indonesia. Kasus perkusi dan tindakan toleransi lainnya, yang menjadikan Umat Islam sebagai target, selalu meningkat, dan luput dari hukum.

Selamat Membaca..



Kalau ada bentrok antara Ustadz dengan Pastur, pihak Depag, Polsek, dan Danramil harus menyalahkan Ustadz, sebab kalau tidak itu namanya diktator mayoritas.

Mentang-mentang Ummat Islam mayoritas (asalkan yang mayoritas bukan yang selain Islam) harus mengalah dan wajib kalah. Kalau mayoritas kalah, itu memang sudah seharusnya, asalkan mayoritasnya Islam dan minoritasnya Kristen. Tapi kalau mayoritasnya Kristen dan minoritasnya Islam, Islam yang harus kalah. Baru “wajar” namanya.

Kalau Khadhafi kurang ajar, yang salah adalah Islam. Kalau Palestina banyak teroris, yang salah adalah Islam. Kalau Saddam Hussein nranyak, yang salah adalah Islam. Tapi kalau Belanda menjajah Indonesia 350 tahun, yang salah bukan Kristen. Kalau Amerika Serikat jumawa dan adigang adigung adiguna kepada rakyat Irak, yang salah bukan Kristen. Bahkan sesudah ribuan bom dihujankan di seantero Bagdad, Amerika Serikatlah pemegang sertifikat kebenaran, sementara yang salah pasti adalah Islam.

“Agama” yang paling benar adalah demokrasi. Anti demokrasi sama dengan setan dan iblis. Cara mengukur siapa dan bagaimana yang pro dan yang kontra demokrasi, ditentukan pasti bukan oleh orang Islam. Golongan Islam mendapat jatah menjadi pihak yang diplonco dan dites terus menerus oleh subyektivisme kaum non-Islam.

Kaum Muslimin diwajibkan menjadi penganut demokrasi agar diakui oleh peradaban dunia. Dan untuk mempelajari demokrasi, mereka dilarang membaca kelakuan kecurangan informasi jaringan media massa Barat atas kesunyatan Islam.

Orang-orang non-Muslim, terutama kaum Kristiani dunia, mendapatkan previlese dari Tuhan untuk mempelajari Islam tidak dengan membaca Al-Quran dan menghayati Sunnah Rasulullah Muhammad SAW, melainkan dengan menilai dari sudut pandang mereka.

Maka kalau penghuni peradaban global dunia bersikap anti-Islam tanpa melalui apresiasi terhadap Qur’an, saya juga akan siap menyatakan diri sebagai anti-demokrasi karena saya jembek dan muak terhadap kelakuan Amerika Serikat di berbagai belahan dunia. Dan dari sudut itulah demokrasi saya nilai, sebagaimana dari sudut yang semacam juga menilai Islam.

Di Yogya teman-teman musik Kiai Kanjeng membuat nomer-nomer musik, yang karena bersentuhan dengan syair-syair saya, maka merekapun memasuki wilayah musikal Ummi Kaltsum, penyanyi legendaris Mesir. Musik Kiai Kanjeng mengandung unsur Arab, campur Jawa, jazz Negro dan entah apa lagi. Seorang teman menyapa: “Banyak nuansa Arabnya ya? Mbok lain kali bikin yang etnis ‘gitu…”

Lho kok Arab bukan etnis? Bukan. Nada-nada arab bukan etnis, melainkan nada Islam. Nada Arab tak diakui sebagai warga etno-musik, karena ia indikatif Islam. Sama-sama kolak, sama-sama sambal, sama-sama lalap, tapi kalau ia Islam-menjadi bukan kolak, bukan sambal, dan bukan lalap.

Kalau Sam Bimbo menyanyikan lagu puji-puji atas Rasul dengan mengambil nada Espanyola, itu primordial namanya. Kalau Gipsy King mentransfer kasidah “Yarim Wadi-sakib…”, itu universal namanya. Bahasa jelasnya begini: apa saja, kalau menonjol Islamnya, pasti primordial, tidak universal, bodoh, ketinggalan jaman, tidak memenuhi kualitas estetik dan tidak bisa masuk jamaah peradaban dunia.

Itulah matahari baru yang kini masih semburat.

Tetapi kegelapan yang ditimpakan oleh peradaban yang fasiq dan penuh dhon (prasangka buruk) kepada Islam, telah terakumulasi sedemikian parahnya. Perlakuan-perlakuan curang atas Islam telah mengendap gumpalan rasa perih di kalbu jutaan ummat Islam. Kecurangan atas Islam dan Kaum Muslimin itu bahkan diselenggarakan sendiri oleh kaum Muslimin yang mau tidak mau terjerat menjadi bagian dan pelaku dari mekanisme sistem peradaban yang dominan dan tak ada kompetitornya.

“Al-Islamu mahjubun bil-muslimin”, Cahaya Islam ditutupi dan digelapkan oleh orang Islam sendiri.

Penulis,  Emha Ainun Nadjib